Mengisi Ruang Maya

Tradisi Maleman – Mencari berkah Lailatul Qodar di akhir Ramadhan

Malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat diistimewakan oleh masyarakat Muslim. Selama waktu ini, umat Muslim mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi malam Lailatul Qodar. Di Jawa, ada sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat yang disebut dengan maleman.

Maleman adalah sebuah tradisi yang dilakukan secara turun temurun. Biasanya, maleman dilakukan pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, yang meliputi tanggal 21 sampai tanggal 29 bulan Ramadhan. Tradisi maleman ini dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan adat daerahnya masing-masing.

dzikir malam dalam tradisi maleman
source: flickr

Pemilihan waktu jatuh pada tanggal-tanggal ganjil di sepertiga terakhir di bulan Ramadhan karena masyarakat meyakini bahwa turunnya malam Lailatul Qodar terjadi pada malam-malam tersebut. Lailatul Qodar adalah malam yang sangat istimewa dalam Islam karena pada malam tersebut, Allah SWT akan melipatgandakan amal perbuatan manusia. Malam ini juga biasa disebut malam seribu bulan sehingga masyarakat tidak menyia-nyiakkannya dengan bersedekah.

Maleman ini dilakukan untuk mengingatkan umat Muslim akan pentingnya malam Lailatul Qodar. Karena bagi siapa saja yang beribadah di malam tersebut, nilainya akan lebih baik dari pada seribu bulan. Sehingga, dalam sejarahnya, para wali berusaha mengingatkan akan betapa pentingnya malam tersebut melalui budaya yang dikenal dengan maleman.

Selain untuk selamatan, bagi-bagi masakan dimaksudkan untuk saling mengikat hubungan keluarga yang jauh agar tidak sampai putus hubungan kekeluargaan. Biasanya, aneka masakan itu dibagikan pada sore hari yang sekaligus dimakan pada buka puasa oleh tuan rumah.

Indonesian Muslim women attend prayers marking the end of the fasting month of Ramadan at Parangkusumo beach outside Yogyakarta, Central Java September 20, 2009. Millions of people gathered at mosques around Indonesian provinces to celebrate Eid al-Fitr, which marks the end of the Muslim fasting month of Ramadan. REUTERS/Dwi Oblo (INDONESIA ANNIVERSARY RELIGION IMAGES OF THE DAY)

Malam maleman juga biasa diisi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti dzikir, tadarus Al-Quran, sholat tarawih, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat membawa berkah dan keberkahan bagi seluruh umat Muslim yang melakukannya.

Baca Juga :   Moderasi Beragama: Definisi, Konsep Dasar, dan Pentingnya dalam Mendorong Toleransi dan Kerukunan Agama

Ada beberapa tradisi maleman yang berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia. Salah satu contohnya adalah maleman di Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan Sekaten. Sekaten adalah salah satu tradisi yang diadakan di Keraton Yogyakarta pada bulan Maulud, yaitu bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dimulai pada tanggal 5 bulan Maulud dan berakhir pada malam Jumat Kliwon terakhir.

Dalam tradisi Sekaten, terdapat beberapa acara yang diadakan seperti pentas seni, pasar malam, dan upacara kesenian. Acara tersebut biasanya dihadiri oleh ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia.

Maleman merupakan salah satu tradisi yang sangat penting bagi umat Muslim di Indonesia. Selain untuk mengingatkan akan pentingnya malam Lailatul Qodar, maleman juga dapat menjadi sarana untuk menjadi sarana untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan, tradisi ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia, terutama yang beragama Islam. Dalam menjalankan tradisi ini, masyarakat tidak hanya berdoa dan beribadah, namun juga berkumpul bersama keluarga, teman, dan tetangga untuk berbagi makanan dan kebahagiaan.

Maleman dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, namun ada beberapa daerah yang memiliki ciri khas sendiri dalam melaksanakan tradisi ini. Sebagai contoh, di daerah Jawa Tengah, maleman sering diisi dengan pertunjukan ludruk, wayang kulit, atau tayuban. Sementara di daerah Aceh, tradisi maleman sering diisi dengan pembacaan Al-Quran dan doa bersama.

Selain sebagai sarana menjalin kebersamaan,maleman juga memiliki nilai sosial yang sangat penting. Dalam tradisi ini, masyarakat saling berbagi makanan dan kebahagiaan tanpa memandang status sosial atau ekonomi. Hal ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas dan toleransi yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Selain itu, tradisi maleman juga memiliki nilai-nilai religius yang sangat penting. Dalam malam yang dianggap sebagai malam terbaik dalam setahun ini, masyarakat berbondong-bondong untuk beribadah dan memperbanyak amal kebaikan. Sehingga, di samping sebagai sarana menjalin kebersamaan, tradisi maleman juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan Tuhan.

Baca Juga :   Menginginkan Gen Z tapi Tak Menghadirkan Politik Hijau

Dalam era digital seperti saat ini, tradisi maleman semakin sulit untuk dipertahankan. Namun demikian, banyak masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Bahkan, tradisi menyambut lailatul qadar juga semakin menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kehangatan dan kebersamaan masyarakat Indonesia.

Dalam hal ini, peran pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi ini. Pemerintah dapat memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai bagi masyarakat yang ingin melaksanakan tradisi ini. Sementara itu, masyarakat dapat terus memperkaya tradisi maleman dengan menggali dan mengembangkan aspek-aspek budaya yang terkait dengan tradisi ini.

Dalam kesimpulannya, tradisi maleman adalah bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia, terutama yang beragama Islam. Dalam menjalankan tradisi ini, masyarakat tidak hanya beribadah, namun juga menjalin kebersamaan dan berbagi makanan dan kebahagiaan. Tradisi maleman memiliki nilai-nilai sosial dan religius yang sangat penting, serta menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kehangatan dan kebersamaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, peran pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam melestarikan dan mengembangkan keragaman tradisi di masyarakat.

Referensi:

  • , . “.” gurusiana.id. https://www.gurusiana.id/read/umisalamah223316/article/tradisi-maleman-untuk-menggapai-malam-lailatul-qodar-366768 (accessed April 1, 2023).
  • , . “.” timesindonesia.co.id. https://timesindonesia.co.id/kopi-times/271485/maleman-tradisi-10-hari-terakhir-bulan-ramadhan (accessed April 1, 2023).
  • , . “.” halopacitan.com. https://halopacitan.com/read/tradisi-maleman-di-tengah-pandemi (accessed April 1, 2023).
  • Bakri, S., & Muhadiyatiningsih, S. N. (2019). TRADISI MALAM SELIKURAN KRATON KASUNANAN SURAKARTA. IBDA` : Jurnal Kajian Islam Dan Budaya17(1), 21–32. https://doi.org/10.24090/ibda.v17i1.1753
Avatar photo

Redaksi El Kariem

Tim redaksi elkariem-mengisi ruang maya. "Saya adalah saya dan etnis, ras, atau agama saya adalah identitas saya. Anda adalah Anda dan etnis, ras, atau agama Anda adalah identitas Anda. Kita adalah satu umat manusia yang bersatu di satu planet, dan kemanusiaan kita yang bersama adalah identitas kita."

1 comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed