Mengisi Ruang Maya
Syiir tanpo Waton

Syiir Tanpo Waton, Melodi Jiwa Penangkal Radikalisme

Dalam setiap bait Syiir Tanpo Waton, tersirat pesan mendalam yang menjadi obat bagi zaman kita yang semakin terjebak dalam arus radikalisme. Melodi yang menyejukkan hati ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali esensi kebersamaan dan toleransi yang telah lama dianut oleh masyarakat kita. Di balik setiap baitnya, terdapat hikmah yang mengajarkan kita tentang pentingnya persatuan, cinta kasih, dan menghargai keragaman.

Bukan hanya sekadar syiir, namun sebuah warisan budaya yang mengajarkan kita untuk kembali ke akar-akar keislaman yang sesungguhnya. Jangan sampai kekayaan ini terlupakan dan hanya menjadi gema di masa lalu. Mari kita jadikan Syiir Tanpo Waton sebagai panduan dalam menjalani kehidupan di tengah-tengah keragaman. Bagi Anda yang belum pernah mendengarnya, saatnya menyelam lebih dalam dan membiarkan hikmah dari Syiir Tanpo Waton menyentuh jiwa Anda. Dengarkan, resapi, dan sebarkan kebaikannya.

Saat ini, di tengah arus pemahaman keagamaan yang cenderung formalistik dan radikal, kesadaran akan pentingnya nilai-nilai akidah dalam membangun keharmonisan dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat semakin mendesak. Akidah yang diartikan sebagai pokok-pokok keteguhan, kebenaran, dan ketetapan yang terpatri dalam jiwa, menjadi fondasi mendasar dalam agama, meliputi rukun Islam dan rukun Iman. Penanaman akidah memiliki tujuan seperti kebahagiaan dunia akhirat dan menghindarkan diri dari penyimpangan pemahaman.

Sebagai respons terhadap arus pemahaman radikal, masyarakat mencari bentuk manifestasi keyakinan melalui ajaran-ajaran agama yang diadaptasi ke dalam tradisi lokal. Salah satunya adalah melalui teks shalawat Jawa, seperti Syiir  Tanpo Waton. Syiir  ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw., namun juga mengandung nilai-nilai karakter keislaman untuk dijadikan teladan.

Sejarah dan Kearifan Dibalik Syiir Tanpo Waton

Dari aspek Historis Syiir  di Jawa, menurut catatan, berkembang sejak zaman para Wali Songo. Mereka memperkenalkan Syiir sebagai medium penyampaian ajaran Islam yang kemudian disambut hangat oleh para Kyai kampung, yang mendasarkannya pada ajaran Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah. Shalawat Jawa, yang juga dikenal dengan sebutan Syiir , menjadi bagian integral dari tradisi masyarakat Jawa. Sebagai genre yang mirip dengan puisi, Syiir  merangkum kata-kata dan lagu yang tersebar luas melalui tradisi lisan di komunitas lokal Jawa, terutama di kampung-kampung.

Baca Juga :   Moderasi dalam Pernikahan Jawa, Romantisme Tradisi dan Syariat

Salah satu Syiir  yang terkenal adalah Shalawat Jawa Syiir  Tanpo Waton, sebuah ciptaan Gus Dur. Terdiri dari 13 bait, Syiir  Tanpo Waton tidak hanya mengandung pesan nasionalis, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai agamis. Inti dari shalawat Jawa dan Syiir  ini adalah menekankan prinsip perdamaian dan non-kekerasan, yang merupakan bagian dari warisan budaya Jawa. Kearifan lokal ini mendorong nilai-nilai kemanusiaan yang perlu diterapkan kembali dalam bentuk pemikiran dan tulisan, guna mewujudkan masyarakat yang aman, damai, dan toleran..

Nilai-nilai Akidah dalam Teks-teks Shalawat Jawa Penangkal Paham Radikalisme

Upaya memahami dan mempraktekkan kembali nilai-nilai budaya berbasis kearifan lokal khususnya teks shalawat Jawa menjadi salah satu solusi konkrit untuk mencegah penyebaran radikalisme di berbagai lingkup masyarakat. Dalam bait shalawat Syi’r Tanpo Waton disebutkan bagaimana gambaran orang yang hafal Al-Qur’an dan Hadits, namun justru digunakan untuk mengkafirkan orang lain, sebagaimana hal tersebut yakni,

Akeh kang apal Qur’an Hadist e

Seneng Ngafirkeh marang liyane

Kafir e dewe Ga’ di gatekke

Yen isih kotor ati akale

Radikalisme dalam bentuk gerakan radikal memiliki latarbelakang akar gerakan yang beragam. Tidak hanya radikalisme berbasis ideologi agama, ketidakadilan sosial, ekonomi, politik juga menjadi basis-basis lain gerakan radikal di tengah masyarakat. Oleh karenanya, dibutuhkan suatu pemahaman menyeluruh terkait radikalisme agar isu ini tidak hanya dipahami sebagai isu yang hanya disandarkan pada pemahaman ideologi keagamaan saja.

Demikian pentingnya penghayatan terhadap salah satu tradisi lokal melalui bacaan mulia yakni teks Shalawat Jawa Syiir  Tanpo Waton sebagai pencegah terpengaruhinya paham radikalisme. Adapun nilai-nilai akidah dalam shalawat Jawa Syiir  Tanpo Waton sebagai berikut:

Pertama, tentang membangun sikap religius khususnya tentang keimanan kepada Allah Swt., bahwa Allah Swt. sebagai Yang Maha Penguasa dan Pencipta segala komponen yang ada di alam semesta. Iman kepada Allah Swt. menunjukkan penerapan sikap manusia yang menjalankan hubungan baik dengan Allah Swt. (hablum minaAllah). Beberapa bait shalawat yang dimaksudkan yakni,

Ayo sedulur Ja nglale ake

Wajib e ngaji sak pranatane

Nggo ngandelake iman Tauhid e

Baguse sangu mulya matine

Kumantel ati lan pikiran

Mrasuk ing badan kabeh njeroan

Mukjizat Rasul dadi pedoman

Minangka dalan manjing e iman

Kedua, tentang anjuran membangun hubungan baik terhadap sesama (hablum minannas). Upaya membangun hubungan baik terhadap sesama pada dasarnya terangkum dalam kandungan dasar negara yakni Pancasila, berupa karakter-karakter luhur yakni toleransi, kebersamaan, musyawarah, dan lain sebagainya. Karakter-karakter yang harus dibangun tersebut terkandung dalam beberapa bait yakni,

Gampang kabujuk nafsu angkara

Ing pepaese Gebyare ndunya

Iri lan meri sugi e tangga

Mula atine peteng lan Nista

Kelawan kanca dulur lan tangga

Kang pada rukun aja daksia

Iku sunnah e Rasul kang mulya

Nabi Muhammad panutan kita

Ketiga, tentang anjuran senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Mendekatkan diri kepada Allah Swt., dilakukan dengan senantiasa berdo’a, berdzikir, menjalankan shalat, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. tergambarkan dalam beberapa bait yakni,

Kelawan Alloh Kang Maha Suci

Kuduh rangkulan rina lan wengi

Di tirakati di riadhoi

Dzikir lan suluk ja nganti lali

Ayo nglakoni sekabeane

Allah kang bakal ngangkat drajate

Senajan ashor tata dhohire

Ananging mulya makom drajat e

Berdasarkan uraian tiga nilai akidah yang terkandung dalam shalawat Jawa Syiir  Tanpo Waton tersebut, pada intinya bahwa semangat ketauhidan yang merasuk ke dalam diri manusia, harus diiringi dengan perwujudan karakter-karakter luhur yakni gotong-royong, musyawarah, keadilan, dan sebagainya, agar tercipta rasa saling menghargai yang semakin kuat. Demikian upaya-upaya tersebut akan mampu menghindarkan dari keterpengaruhan paham-paham berbahaya termasuk radikalisme, yang dapat merusak rasa persatuan dan kesatuan masyarakat.

Baca Juga :   Makna Puasa Ramadhan: Harmoni Sosial melalui Kebijaksanaan Berderma

Untuk mencegah penyebaran radikalisme, penting bagi kita untuk memahami dan mempraktekkan nilai-nilai kearifan lokal, termasuk yang terkandung dalam teks shalawat Jawa. Syiir  Tanpo Waton menunjukkan gambaran orang yang hafal Al-Qur’an dan Hadits namun justru menggunakannya untuk mengkafirkan orang lain. Radikalisme memiliki akar yang beragam, mulai dari ideologi agama hingga ketidakadilan sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, pemahaman komprehensif terhadap radikalisme sangat diperlukan.

Dalam Shalawat Jawa Syiir  Tanpo Waton, terkandung beberapa nilai akidah, di antaranya:

  • Ketauhidan kepada Allah Swt. – Ini mencerminkan hubungan baik manusia dengan Allah.
  • Hubungan Baik dengan Sesama (Hablum minannas) – Ini mencakup karakter-karakter luhur seperti toleransi dan kebersamaan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
  • Mendekatkan Diri kepada Allah Swt. – Ini melalui berdo’a, berdzikir, dan menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya.

Berdasarkan ketiga nilai akidah tersebut, penting bagi kita untuk memahami bahwa ketauhidan harus diiringi dengan karakter-karakter luhur agar masyarakat dapat hidup dalam rasa menghargai dan persatuan yang kuat. Dengan demikian, kita dapat menghindari keterpengaruhannya oleh pemahaman-pemahaman radikal yang dapat merusak kesatuan masyarakat.

Referensi

  • Noor Fahmi Madjid, Arlinah. Pramuji, “Upaya Pencegahan Radikalisme Berbasis Kearifan Lokal Melalui Sosialisasi Kepada Mahasiswa Baru Universitas Khairun,” Etnohistori: Jurnal Ilmiah Kebudayaan Dan Kesejarahan IX (2022): 6, https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/etnohis/article/view/5768/3691.
  • Sinaga, Syah Sub’haan Fairy, dkk. “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Tradisi Shalawat Jawa,” Tonika: Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Seni (Sekolah Tinggi Theologia Abdiel, 2023), https://doi.org/10.37368/tonika.v6i1.487.
  • Soraya, “Refleksi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Syiir  Tanpo Waton Pada Perilaku Sufistik Jamaah Dauroh Bahasa Pondok Pesantren Ahlus-Shofa Wal-Wafa.” Wiwi Yulianah, “Nilai-Nilai Pendidikan Akidah Dalam Seni Salawat Mantra Di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I. Yogyakarta” (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2021), https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/49936/1/15410034_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf.
Baca Juga :   Maulid di Ruang Digital, Ekspresi Publik Twitter tentang Nabi Muhammad

Arinda Rosalina

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed