Mengisi Ruang Maya
moderasi beragama

Moderasi Beragama: Definisi, Konsep Dasar, dan Pentingnya dalam Mendorong Toleransi dan Kerukunan Agama

Moderasi beragama-Dewasa ini, di Indonesia, agama sering menjadi pemicu konflik dan perpecahan. Setiap kelompok agama memiliki keyakinannya sendiri-sendiri, dan seringkali merasa paling benar atau paling suci. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak orang mulai menyadari bahwa sikap tersebut hanya memperburuk keadaan. Indonesia, negara yang religius dan pluralistik, membutuhkan keberagaman untuk bisa tetap maju dan berkembang.

Dalam mencapai tujuan tersebut, moderasi agama menjadi sangat penting. Moderasi agama membantu untuk menyeimbangkan kebebasan beragama dengan komitmen nasional, yang pada akhirnya akan membawa kedamaian dan persatuan. Dengan memahami bahwa setiap agama memiliki kebaikan dan nilai-nilai yang sama-sama penting, maka orang-orang dapat hidup berdampingan dengan saling menghargai satu sama lain.

Dalam sebuah negara seperti Indonesia, moderasi agama membantu menghindari perpecahan dan konflik yang dapat merugikan semua orang. Negara yang majemuk membutuhkan toleransi dan sikap saling menghargai antara kelompok agama. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mempraktikkan agamanya dengan cara yang moderat, dan tidak melanggar nilai-nilai kebebasan dan keadilan. Dengan begitu, kita semua bisa hidup dengan damai dan sejahtera di dalam keberagaman yang kita miliki.

Moderasi tidak setengah liberal atau tidak Kaffah, tetapi artinya seimbang dan menghindari sikap ekstrem dalam membela interpretasi kebenaran yang berbeda.

Sebagai masyarakat yang beragam, Indonesia sering mengalami gesekan sosial karena perspektif yang berbeda tentang masalah agama, yang dapat mengganggu suasana harmonis dan damai yang diinginkan. Misalnya, benturan antara pandangan agama dan ritual budaya lokal atau menolak pemimpin urusan publik karena agama yang berbeda.

Ada juga yang ingin mengubah ideologi negara atau memanggil jihad agama, menyebabkan gesekan dan konflik. Sementara tidak mungkin untuk menyatukan pandangan agama karena keberagaman klaim kebenaran.

Kementerian Agama mengusulkan moderasi agama, yang berarti mengurangi kekerasan atau menghindari ekstremisme dalam sikap dan praktik keagamaan sambil mewujudkan esensi ajaran agama untuk melindungi martabat manusia dan membangun kebaikan publik berdasarkan prinsip keadilan, keseimbangan, dan ketaatan pada konstitusi (Kemenag RI, 2020).

Apa Itu Moderasi Beragama?

Moderasi agama penting untuk Indonesia, negara yang religius dan pluralistik, dan menyeimbangkan kebebasan beragama dan komitmen nasional sangat diperlukan. Moderasi tidak setengah liberal atau tidak Kaffah, tetapi artinya seimbang dan menghindari sikap ekstrem dalam membela interpretasi kebenaran yang berbeda.

Moderasi dapat diartikan sebagai jalan tengah yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk dalam forum diskusi. Moderator biasanya bertindak sebagai mediator yang netral dan tidak memihak pada siapa pun atau pandangan tertentu, serta memperlakukan semua pihak dengan adil dalam proses diskusi (Kementerian Agama RI, 2019).

Selain itu, moderasi juga dapat dianggap sebagai bentuk kesempurnaan atau “sesuatu yang terbaik”. Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa banyak sifat yang dianggap baik berada di antara dua sifat yang buruk. Misalnya, keberanian dianggap sebagai sifat yang baik karena berada di antara sifat ceroboh dan sifat takut, sedangkan sifat dermawan dianggap baik karena berada di antara sifat boros dan sifat kikir (Kementerian Agama RI, 2019).

Dalam konteks agama, moderasi berarti mengikuti jalan tengah dalam beragama sesuai dengan pengertian moderasi yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan moderasi beragama, seseorang tidak bersikap ekstrem atau berlebihan dalam menjalankan ajaran agama. Orang yang menerapkan moderasi dalam agama mereka disebut sebagai moderat (Kementerian Agama RI, 2019).

Moderasi agama adalah tanggung jawab bersama yang perlu melibatkan berbagai kelompok dan institusi. Menjadi orang Indonesia pada dasarnya berarti menjadi religius dan sebaliknya, dan moderasi dalam agama adalah perekat antara semangat keagamaan dan komitmen pada kenegaraan, mengarah pada masyarakat yang harmonis, damai, toleran, dan patuh yang memajukan Indonesia (Kemenag RI, 2020).

Baca Juga :   Asal Usul Idul Fitri yang Menarik untuk Diketahui: Sejarah, Tradisi, dan Makna Perayaan

Berbagai Definisi Moderasi Beragama

Untuk lebih jelasnya berikut merupakan beberapa definisi moderasi beragama dari para pakar dan ulama di Indonesia:

Prof Dr. Oman Fathurahman

Menurut Prof Dr. Oman Fathurahman dalam “Kemenag Podcast”, menyampaikan bahwa Moderasi beragama adalah sebuah proses yang mengutamakan ajaran agama yang esensial, melindungi martabat kemanusiaan, dan berorientasi pada membangun kemaslahatan umum yang berlandaskan pada prinsip adil dan berimbang. Lawan dari moderasi beragama adalah sikap ekstrim yang menganggap enteng nilai-nilai agama dan tidak menghargai martabat kemanusiaan (Kemenag RI, 2021).

Tujuan akhir dari moderasi beragama adalah menciptakan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai, toleran, dan rukun. Penting juga untuk memahami bahwa moderat atau tidak moderat bukan hanya terkait dengan tafsir agama seseorang, tetapi juga cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama.

Buya Yahya

Meskipun bahasa moderasi menunjukkan gerakan untuk mengurangi kekerasan atau ekstremisme, namun maknanya harus dipahami dengan benar. Jika moderasi dimaknai sebagai cara beragama yang keras dan ekstrim, maka hal tersebut harus direm. Jika makna tersebut mengarah kepada radikalisme, maka kita harus menghindarinya (Al-Bahjah  TV, 2021).

Gerakan moderasi agama bertujuan untuk menghentikan perilaku-perilaku ekstrim, kekerasan, dan radikal yang selama ini mungkin ditemukan dalam agama. Namun, pemain dalam gerakan ini harus orang yang bijak, cerdas, dan tidak kurang pacem.

Orang yang menyusup dan menghancurkan Islam dengan menggunakan baju moderasi adalah penjahat yang harus dihindari. Moderasi Islam menekankan pada konsep wasathiyah atau Islam yang moderat dan tidak ekstrem. Gerakan moderasi agama bertujuan untuk menghentikan radikalisme dan mempromosikan perdamaian, namun pelakunya harus orang yang cerdas dan bijak .

Quraish Shihab

Moderasi beragama dapat diartikan sebagai kecenderungan ke arah pertengahan dan upaya menghindari sikap ekstrim. Dalam bahasa Alquran, moderasi disebut sebagai wasatiyah, yang berarti pertengahan. Dalam konteks agama, moderasi mengantarkan kita menuju Tuhan dengan cara yang damai dan berbagai jalur dapat dipilih selama mengarah kepada Tuhan. Alquran juga memberikan petunjuk mengenai tuntunan agama yang bersifat kedamaian (METRO TV, 2021).

Moderasi beragama memerlukan pengetahuan tentang kondisi dan ajaran agama serta kehati-hatian dalam menghadapi situasi. Peneguran juga harus tepat waktu dan tempat agar tidak mengganggu orang lain. Moderasi beragama merupakan nilai yang perlu diwujudkan agar tercipta kedamaian dan kebaikan dalam masyarakat.

Selanjutnya, dalam talk show yang sama Tuan Guru Banjang (METRO TV, 2021) menyatakan bahwa moderasi beragama juga menjadi penting di Indonesia, di mana pemerintah dan Kementerian Agama mempopulerkan istilah ini sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka menengah nasional. Di dunia Islam, istilah wasathiyah atau moderasi beragama juga menjadi penting, karena Islam sebenarnya adalah agama yang moderat dan toleran. Misalnya, Arab Saudi dan Jordania juga telah memperkenalkan konsep ini dalam dialog Islam antar-madzhab dan antar-umat beragama.

Toleransi adalah menghargai perbedaan antara satu dengan yang lain. Ini adalah prinsip sederhana dan nyata, seperti yang terdapat dalam Alquran, “Lakum dinukum waliyadin” (untukmu agamamu dan untukku agamaku). Rasulullah Saw. juga menjalankan prinsip ini secara konsisten di Madinah dan sejarah Islam mencatat banyak contoh toleransi di seluruh pusat perkembangan agama itu. Di Indonesia, khususnya di NTB, toleransi juga menjadi hal alami bagi umat Islam, meskipun mayoritas penduduknya muslim. Banyak komunitas agama yang berbeda tetangga satu sama lain dan semua merasa bahwa NTB adalah rumah mereka (METRO TV, 2021).

Baca Juga :   Laporan IPAC tentang Ancaman yang Ditimbulkan oleh Keluarga Ekstremis pada Jaringan Villa Mutiara Indonesia

Contoh Perilaku Tidak Moderat

Contoh yang paling jelas adalah ketika seseorang menuduh saudaranya yang seagama sebagai kafir hanya karena perbedaan pandangan keagamaan. Namun, hanya Allah yang tahu apakah seseorang termasuk kafir atau tidak (Kementerian Agama RI, 2019).

Selain itu, seseorang dapat dianggap berlebihan dalam beragama jika mereka mengabaikan masalah sosial di sekitarnya dan hanya fokus pada beribadah sepanjang hari.

Contoh lain dari perilaku yang berlebihan dalam beragama termasuk merendahkan agama orang lain atau menghina figur atau simbol suci agama tertentu. Jika seseorang terjebak dalam perilaku ekstrem ini, itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip moderasi dalam beragama.

Mengapa Moderasi Beragama Penting?

moderasi beragama
foto : baranews

Banyak orang mungkin bertanya-tanya, mengapa moderasi agama itu penting atau mengapa banyak orang berbicara atau kampanye tentang moderasi agama?

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan banyak insiden yang melibatkan tindakan kekerasan, ancaman, atau pengekangan dalam nama agama. Di dunia online, kita sering melihat kekerasan verbal dalam nama agama dengan menyebut orang lain sebagai kafir, sesat, atau tidak beriman. Ini terjadi tidak hanya secara online, tapi juga di dunia nyata, seperti di forum-forum keagamaan dimana orang saling mencap sebagai sesat atau menuduh satu sama lain.

Kita harus mengakui bahwa kebencian dan kekerasan dalam nama agama terjadi di banyak tempat di dunia, bukan hanya di Indonesia, negara yang mayoritas penduduknya Muslim, tapi juga terjadi di negara lain, seperti India, dimana kelompok sayap kanan Hindu melakukan kekerasan terhadap minoritas Muslim yang bekerja sebagai pedagang ternak karena di India, sapi dihormati sebagai binatang suci oleh budaya Hindu.

Kita juga melihat hal yang sama terjadi di Myanmar, dimana seorang biksu terkenal karena ceramahnya yang memicu kebencian terhadap minoritas Muslim. Hal ini sangat ironis karena kita seharusnya menganggap agama sebagai pedoman hidup yang baik, dengan sikap yang baik terhadap sesama manusia, terlepas dari perbedaan agama.

Namun kenyataannya, dalam beberapa tahun terakhir, banyak kelompok atau individu yang menggunakan agama untuk menyebarkan sentimen benci dan tindakan kekerasan. Oleh karena itu, moderasi agama sangat penting agar kita tidak jatuh pada sikap yang ekstrem atau dalam bahasa Islam disebut faktor kubah sehingga ketika kita lebih beragama, itu tidak berarti kita harus lebih banyak membunuh atau lebih banyak membenci orang lain.

Di Indonesia, mayoritas penduduknya Muslim, dan 96% penduduknya menganggap agama penting dalam hidup. Oleh karena itu, agama sangat penting bagi masyarakat Indonesia.

Alasan Mendasar Perlunya Moderasi dalam Beragama

Indonesia adalah sebuah negara di mana agama memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakatnya. Islam, agama yang dominan, menekankan pentingnya untuk menghadiri masjid dan rajin dalam beribadah. Namun, perlu dicatat bahwa ekstremisme dan radikalisme tidaklah melekat pada agama tersebut, melainkan pada interpretasi individu tertentu.

Survei yang dilakukan pada masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa 96 persen dari mereka menganggap agama penting. Hal ini menunjukkan sensitivitas terhadap segala hal yang berhubungan dengan agama di negara tersebut. Dengan semakin meningkatnya trend menuju agama, penting untuk memastikan bahwa interpretasi agama yang dipegang masyarakat adalah moderat dan toleran terhadap kepercayaan lain.

Indonesia adalah sebuah negara yang beragam dengan berbagai kepercayaan dan suku bangsa. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempromosikan toleransi dan pemahaman terhadap agama lain untuk mencegah pandangan agama yang ekstrem menguasai masyarakat. Tantangannya adalah untuk mendorong masyarakat menjadi lebih toleran dan terbuka, terutama dalam konteks Islam.

Beberapa peristiwa terbaru seperti munculnya Al-Qaeda dan ISIS telah menyebabkan pandangan agama yang radikal dan ekstrem di kalangan sebagian orang Indonesia. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua orang Indonesia memegang pandangan tersebut. Sebagian masyarakat mungkin bersikap ultra-konservatif dan terpengaruh oleh pandangan yang dipropagandakan oleh Ustadz Salafi. Oleh karena itu, penting untuk mempromosikan moderasi agama dan menginterpretasikan teks agama dalam konteks zaman modern.

Situasi sosial-politik di sebuah negara mempengaruhi interpretasi teks agama. Di Indonesia, interpretasi populer dari teks agama bukanlah ayat-ayat perang karena negara tersebut tidak pernah mengalami perang dalam beberapa dekade terakhir. Oleh karena itu, penting untuk mengakui bahwa interpretasi teks agama dapat bervariasi berdasarkan pengaruh sosial-budaya dan sosial-politik subjektif.

Untuk mencegah konflik dan pertentangan, penting untuk mempromosikan moderasi dan toleransi agama di Indonesia. Dengan melakukan hal ini, Indonesia dapat memastikan bahwa berbagai kepercayaan dan agama dapat hidup berdampingan dengan damai.

Baca Juga :   Maulid di Ruang Digital, Ekspresi Publik Twitter tentang Nabi Muhammad

Konsep Dasar Moderasi Beragama

Manusia memiliki keterbatasan dalam memahami kebenaran pengetahuan Allah yang luas, sehingga menghasilkan berbagai tafsir ketika mencoba memahami teks agama. Sehubungan dengan konsep dasar moderasi beragama, Anda dapat merujuknya pada buku Tanya Jawab Moderasi Beragama (Kementerian Agama RI, 2019).

Buku ini diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia . Buku ini ditujukan sebagai bacaan singkat untuk memahami moderasi agama, yang merupakan proses memahami dan menjalankan ajaran agama secara adil dan seimbang (Kementerian Agama RI, 2019).

Detail terpenting dalam buku ini adalah arti moderasi, penerapannya, dan prinsip-prinsip moderasi dalam agama. Moderasi merupakan jalan tengah antara dua hal buruk, biasanya antara kecerobohan dan ketakutan. Penting untuk tidak berlebihan terutama dalam hal agama, karena dapat menyebabkan pemborosan. Contoh dari berlebihan agama dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika seorang pengikut agama menganggap saudaranya yang beragama sama sebagai kafir. Jalan Tengah adalah jalan agama, di mana seseorang tidak ekstrem dan tidak berlebihan saat menjalankan ajaran agama.

Pengertian dan Tujuan

Moderasi agama bertujuan untuk memediasi dan mengundang kedua kutub ekstrem untuk bergerak ke tengah untuk kembali ke esensi agama, yaitu memanusiakan manusia. Prinsip-prinsip agama moderat mencakup adil dan seimbang, adil berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan melakukannya secepat mungkin, sementara seimbang berarti selalu berada di tengah antara dua kutub dalam hal ibadah (Kementerian Agama RI, 2019).

Moderasi agama juga menekankan bahwa pemahaman dan praktik agama dapat dianggap berlebihan jika melanggar tiga hal pertama, yaitu nilai-nilai kemanusiaan, kesepakatan bersama, dan ketertiban umum. Contoh sikap ekstrem termasuk makan makanan atau minuman yang dilarang menurut ajaran agama mereka, menghancurkan rumah ibadah, merendahkan martabat manusia, dan jihad agama, di mana puluhan atau bahkan ratusan orang tak berdosa tewas seketika.

Konsep Dasar Moderasi Beragama

Detail terpenting dalam teks ini adalah bahwa agama harus dijalankan untuk menyebarkan belas kasih dan rasa empati terhadap alam, untuk tidak melanggar batasan kesepakatan bersama, dan untuk tidak melanggar pembatasan ketertiban umum (Kementerian Agama RI, 2019).

Moderasi beragama bukanlah hal yang sama dengan agama moderat, tetapi agama tidak perlu dimoderasi karena agama sendiri telah mengajarkan prinsip keadilan dan keseimbangan. Tidak ada agama yang mengajarkan ekstremisme, tetapi tidak sedikit orang yang menjalankan ajaran agama yang beralih ke ekstrem (Kementerian Agama RI, 2019).

Ajaran agama untuk memuliakan wanita adalah contoh konkret dalam membedakan antara agama dan cara beragama. Orang-orang yang moderat akan selalu mempertimbangkan kepentingan kemanusiaan selain kepentingan agama yang objektif. ElKariem berusaha memberikan wawasan moderasi beragama dengan rujukan resmi dan pendapat berbagai tokoh. Semoga dapat dijadikan referensi maupun wawasan.

Referensi

  1. Al-Bahjah TV. (2021, November 27). Moderasi Beragama : Sesuaikah dengan Pemahaman Islam yang Benar? | Buya Yahya Menjawab [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=aqIChVvKG9Q
  2. Kemenag RI. (2020, December 18). Kenapa Harus Moderasi Beragama? [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=E63nkXVP4e0
  3. Kemenag RI. (2021, March 15). Apa, Mengapa, & Bagaimana Moderasi Beragama [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=M1rfdWbIAhY
  4. Kementerian Agama RI. (2019). Tanya Jawab Moderasi Beragama (Cet. Pertama). Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI: Jakarta, Indonesia.
  5. METRO TV. (2021, April 24). OASE RAMADAN – Moderasi Beragama [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=A-Wm_XmPmDA

 

Penulis El Kariem

2 comments

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed