Mengisi Ruang Maya
kekerasan di era digital

Kekerasan di Era Digital: Bagaimana Film dan Video Game Mempengaruhi Generasi Muda

Dalam era teknologi serba cepat, media digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari. Kedua bentuk media dominan saat ini, film dan video game, memiliki dampak yang signifikan, terutama pada generasi muda. Dampak dari teknologi dan media ini menuntut tanggung jawab kita untuk memahami dan mengedukasinya, terutama dalam konteks perilaku kekerasan di kalangan remaja dan anak-anak.

Sebagai contoh, di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, sebuah insiden terjadi di sekolah dimana sebuah ejekan yang mungkin bagi sebagian orang terdengar sepele, telah memicu emosi seorang pemuda, HM, hingga mengamuk dan menyerang seorang siswa SD, AW, dengan ranting kayu (Detiknews/ 16/08/2023). Kejadian ini menggambarkan betapa rawannya emosi manusia, terutama anak-anak dan remaja, terhadap pengaruh dari luar.

Di sisi lain, di Blitar, sebuah tragedi menggemparkan terjadi di lingkungan pendidikan MTs Wonodadi (Detiknews/ 26/08/2023). AJH, seorang siswa yang awalnya hanya ingin bersenda gurau dengan teman sekelasnya, MA, tiba-tiba berada dalam konfrontasi fisik yang tragis. Akibatnya, AJH meninggal dunia setelah diserang oleh MA. Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar dan bermain, kini menjadi saksi bisu dari tragedi yang tak bisa dihindari.

Kedua insiden tersebut menyoroti pentingnya kesadaran emosi dan dampak dari lingkungan serta media. Di era digital saat ini, dimana informasi dan pengaruh media meresap hampir ke setiap aspek kehidupan kita, penting bagi kita untuk mengedukasi generasi muda tentang bagaimana mengelola emosi dan respons terhadap stimulus luar.

Media: Sebuah Pedang Bermata Dua

Dengan kemudahan akses ke konten, film dan video game telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun, apa yang tampak sebagai sumber hiburan murni memiliki sisi lain: potensi untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku. UNESCO menemukan bahwa media memiliki dampak signifikan terhadap persepsi kekerasan di kalangan anak muda, dengan banyak anak muda mengidentifikasi karakter aksi dari film sebagai panutan (UnescoPhysicalDocument, n.d.).

Baca Juga :   Moderasi Beragama: Definisi, Konsep Dasar, dan Pentingnya dalam Mendorong Toleransi dan Kerukunan Agama

Sementara itu, teknologi telah memfasilitasi akses yang lebih mudah ke konten kekerasan. Anak-anak dan remaja saat ini menghabiskan rata-rata 6 jam 21 menit setiap hari mengonsumsi media hiburan (UnescoPhysicalDocument, n.d.). Dengan begitu banyak waktu yang dihabiskan, pertanyaannya adalah: seberapa besar pengaruh konten tersebut terhadap mereka?

Teori Belajar Sosial dan Perilaku Kekerasan

Bandura, A., & Walters, R. (1963), melalui teori belajar sosial, menunjukkan bahwa individu mempelajari perilaku melalui proses pemodelan . Dalam dunia digital, model ini sering kali berasal dari karakter dalam film atau video game. Tetapi ini hanya setengah dari ceritanya. Teori asosiasi diferensial Sutherland, E.H. (1939) menambahkan bahwa perilaku menyimpang juga dipelajari melalui interaksi dengan kelompok-kelompok tertentu. Jadi, sementara seorang remaja mungkin terinspirasi oleh karakter dalam video game, lingkungannya juga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku tersebut.

Media, Teknologi, dan Lingkungan Sosial

Kasus kekerasan di Soppeng dan Blitar memberikan gambaran tragis tentang bagaimana kombinasi pengaruh media dan lingkungan sosial dapat menyebabkan tindakan kekerasan. Di satu sisi, kita memiliki media yang terus mempromosikan gambaran kekerasan sebagai bentuk hiburan, dan di sisi lain, kita memiliki lingkungan sosial yang mungkin mendukung atau bahkan mendorong perilaku kekerasan.

Dalam kasus Blitar, seorang siswa dipukul oleh temannya hingga tewas. Meskipun sulit untuk menentukan penyebab pasti dari tindakan tersebut, kombinasi dari paparan kekerasan di media dan mungkin adanya tekanan atau konflik dalam lingkungan sosial mereka bisa menjadi faktor pemicunya.

Solusi Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Menghadapi tantangan ini memerlukan pendekatan multipihak. Orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama untuk mengurangi dampak negatif dari media kekerasan. Ini termasuk mendidik anak-anak dan remaja tentang dampak potensial dari apa yang mereka konsumsi dan mempromosikan keterampilan literasi media.

Baca Juga :   Kapan Idul Fitri 2023 dan Mengapa Berbeda?

Selain itu, memperkuat jaringan dukungan sosial untuk remaja, seperti program mentoring atau kelompok dukungan, dapat membantu mencegah perilaku kekerasan.

Generasi muda saat ini tumbuh dalam dunia yang dipenuhi dengan teknologi dan media. Sementara ini membawa banyak manfaat, juga ada risiko yang terkait dengan paparan konstan terhadap konten kekerasan. Dengan memahami pengaruh media dan lingkungan sosial, kita dapat bekerja menuju solusi yang akan melindungi generasi muda dari dampak negatif dari kedua faktor ini.

UNESCO global study on media violence.

Bandura, A., & Walters, R. H. (1963). Social Learning and Personality Development (p. 107). New York Holt, Rinehart and Winston. – References – Scientific Research Publishing. (n.d.). https://www.scirp.org/(S(351jmbntvnsjt1aadkposzje))/reference/referencespapers.aspx?referenceid=2756000

Sutherland, E. H. (1939). White-Collar Criminality. American Sociological Review, 5, 1-12.  – References – Scientific Research Publishing. (n.d.). https://scirp.org/reference/referencespapers.aspx?referenceid=2931081

 

Kang Toha

Muntoha

1 comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed