Mengisi Ruang Maya
idul fitri

Idul Fitri, Menyelami Intrik dibalik Khon Guan Isi Rengginang dan Sang Ayah yang Tak Kunjung Datang

 

idul fitri

Idul fitri-Jujur atau tidak, suasana kampung dan jajanan yang terpajang rapi di meja-meja antik si mbah dan beberapa sanak saudara lain saat ini sudah terngiang-ngiang di kepala Saya dan mungkin juga Anda.

Kerinduan yang sebenarnya di hari-hari lain sengaja diabaikan, ketika mendengar kata “Mudik”, “Lebaran”, menghipnotis dan memunculkan perasaan rindu dari alam bawah sadar. 

Peristiwa demikian, beberapa waktu lalu Saya alami. Saat pertemuan virtual keluarga via WhatApps, kata-kata yang membuat kerinduan dengan kampung halaman kembali di lontarkan “Nak, kapan Pulang”, begitulah sapa Ibu Kandung Saya.  

Momen itu, membuat Saya kembali menyesali momen-momen Idul Fitri di tahun sebelumnya. Momen yang tidak bisa Saya nikmati sepenuhnya. Betapa Saya lupa meresapi makna dan nilai sesungguhnya dari Idul Fitri, yang tentu saja ini hanya ada di Indonesia.

Rasa gabut ini diperparah saat Saya scroll halaman Facebook. Muncul kembali postingan “Khon Guan isi rengginang” dan beberapa meme yang mencari sosok ayah dari gambar kaleng Khon Guan.

Anehnya, jika pada hari-hari lain saya terkadang ikut terlibat menjadi penyumbang like and comment, dan mengikuti alur tekstual dari postingan tersebut. Entah karena faktor rindu kampung halaman atau faktor lainnya, pikiran Saya berkelana ke ranah kontekstual atau bahkan sampai keranah makna majaz. Alhasil, Saya kemudian mendapatkan ilham penafsiran kontekstual dari fenoma medsos Khon Guan ini (hasil tafsir ini akan Saya jelaskan nanti di bawah).

Sebelum memulai menguak persoalan tafsir-menafsir ini, Saya ingin sedikit berbelok pada persoalan tafsir tekstual dan kontekstual. Ini penting, agar pemaknaan Saya dengan pembaca tidak berbeda.

Analisis tekstual berfokus pada analisis teks itu sendiri, termasuk bahasa, struktur, dan perangkat sastranya, untuk memahami berbagai maknanya (Laviosa et al., 2017). Analisis ini melibatkan identifikasi siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana sebuah teks (Laviosa et al., 2017). 

Di sisi lain, analisis kontekstual berfokus pada analisis kondisi dan lingkungan sekitar tempat teks tersebut ditulis, termasuk faktor sosial, budaya, dan sejarah yang mungkin telah memengaruhi pembuatan dan penafsirannya (Laviosa et al., 2017). Analisis ini memerlukan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan analisis tekstual dan digunakan untuk memahami konteks yang lebih luas di mana teks tersebut diproduksi (Laviosa et al., 2017). Meskipun analisis tekstual dan kontekstual digunakan dalam berbagai karya, keduanya berada di kutub yang berlawanan dalam spektrum analisis (Laviosa et al., 2017).

Maksud dari tafsir tekstual di sini adalah kondisi di mana pembaca memaknai teks sejauh ruang lingkup yang dicakup oleh teks. Misalnya, dalam contoh kasus di atas, persoalan Khon Guan dimaknai sebagai meme dan quotes lucu-lucuan yang selalu muncul setiap Ramadhan. Sedangkan, tekstual berarti menghubungkan teks Khon Guan dengan kondisi sosial kultural yaitu Idul Fitri. 

Baca Juga :   Tradisi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia

Lalu, apa hasil pemaknaan kontekstual yang Saya dapatkan setelah menghubungkannya dengan konteks Idul Fitri

Lihat Asal Usul Idul Fitri yang Menarik untuk Diketahui: Sejarah, Tradisi, dan Makna Perayaan

Sebagaimana telah Saya ceritakan di awal, keterlibatan Saya terhadap status “Khon Guan Isi Rengginang” menggiring Saya pada kerinduan kampung halaman. Dalam konteks ini, fikiran Saya terfokus pada kata “Regginang”, saking fokusnya Saya teringat bagaimana dulu Si Mbah, menggoreng Rengginan di “Pawon” (tempat pembakaran kayu/arang di tungku). Bagaimana dengan segala keterbatasannya, baik dari sisi dana maupun keterampilan, Rengginang di goreng dengan penuh penghormatan. 

Daya dan upaya dikeluarkan semua demi menghormati tamu. Inilah yang membawa Saya pada kesimpulan bahwa Rengginang si Mbah bukanlah hal sepele, ini lebih berharga dari jajanan terenak di abad ini. Keterbatasan, rasa ingin menghormati tamu menjadikan nilai di dalamnya tidak dapat di ukur.

Setelah menghasilkan satu makna, fikiran Saya kemudian lanjut berkelana, menafsirkan quotes “Sang Ayah dalam gambar kaleng Khon Guan yang tidak tampak”. Dalam konteks ini, Saya memilih menafsirkannya dengan mengandaikan saat di mana banyak orang tidak bisa mudik pada masa Covid tahun lalu.

Gambar pada kaleng tersebut dapat dimaknai sebagai kisah mereka yang tidak bisa mudik, lantaran berbagai faktor, seperti faktor wabah pandemi. Dari sini kemudian Saya menyimpulkan betapa harus bersyukurnya Saya dan Anda tentu saja. Saat sebelum tanggal 21 atau 22 April 2023 nanti, bisa pulang kampung.

Melihat gambar kaleng Khon Guan berikut isi Rengginang di dalamnya, mengharuskan kita untuk semaksimal mungkin menikmati masa-masa Idul Fitri, bersilaturahmi dengan keluarga, Si Mbah dan tentu Ayah dan Ibu.

Momen inti dari Idul Fitri adalah Silaturahmi, melepas kerinduan dengan kampung halaman, menyambung tali yang putus lantaran kesibukan pekerjaan, dan kembali menjadi manusia yang memanusiakan dirinya.

Disclaimer: Penulis bukan agen Khon Guan.

Baca Juga :   Awal Ramadan dan Idul Fitri 2023 di Indonesia: Metode dan Kriteria Penetapannya

 

Avatar photo

Soleh Hasan Wahid

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed