Mengisi Ruang Maya
kenduri

Budaya Lokal di Era Perubahan Sosial: Kenduri dalam Kehidupan Masyarakat

Pernah suatu kali, saya diundang ke sebuah kenduri yang diadakan oleh tetangga saya. Saat tiba di sana, saya merasa sangat terkesan dengan cara undangan yang disampaikan. Undangan tersebut sangat sederhana dan tampak langsung dari hati, hanya berisi informasi penting seperti tanggal, waktu, dan alamat lokasi kenduri. Tanpa embel-embel atau promosi-promosi yang kurang relevan.

Pada suatu waktu, saya menerima undangan versi alternatif yang cukup mengejutkan, yaitu undangan kenduri yang disampaikan secara “LISAN”. Saat itu, seseorang datang ke rumah saya dan mengetuk pintu dengan sopan. Setelah saya membuka pintu, dia menyampaikan pesan dari Bapak Anu, pemilik hajatan, bahwa saya diundang untuk hadir pada kenduri yang akan berlangsung pada jam 16:00. Tanpa ada embel-embel promosi, undangan ini terkesan sangat sederhana. Meskipun tidak dijanjikan hadiah apapun, saya memutuskan untuk menghadiri acara tersebut karena saya merasa undangan kenduri merupakan satu-satunya bentuk undangan yang jelas, konkret, dan berisi nilai-nilai kebersamaan yang sangat penting.

Setelah Saya renungkan, mengapa hal ini rela Saya lakukan? Apa yang mendasarinya? Jawabannya adalah karena undangan Kenduri merupakan satu-satunya, undangan yang jelas, konkrit, tanpa pamrih dan tentu mengandung nilai kebersamaan. Demi kebersamaan tampaknya Saya harus rela dan menyempatkan diri untuk datang, semua demi kemanusiaan dan kebersamaan.

Secara teori, kenduri merupakan salah satu budaya tradisional Jawa yang sangat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga bagi masyarakat Jawa (Cahyani et al., 2019). Budaya kenduri ini biasanya diadakan oleh keluarga atau komunitas untuk merayakan peristiwa penting seperti kelahiran, pernikahan, atau kematian (Alviawati et al., 2018). Kenduri sendiri memiliki arti yang sangat dalam di kehidupan masyarakat Jawa, karena selain sebagai ajang untuk mengucapkan rasa syukur atau doa kepada orang yang telah meninggal, kenduri juga dipercaya dapat membawa berkah dan keberuntungan bagi masyarakat yang mengadakannya (Festivities | Kenduri – Embodied Histories, n.d.).

Dalam praktiknya, kenduri biasanya diawali dengan kegiatan keagamaan seperti membaca doa-doa atau upacara adat. Selanjutnya, masyarakat yang hadir akan diberikan makanan dan minuman sebagai tanda terima kasih atas kehadiran mereka dalam acara tersebut. Selain itu, kenduri juga menjadi momen yang tepat bagi masyarakat Jawa untuk berinteraksi dan memperkuat hubungan antar anggota masyarakat (Abidatin, 2016).

Baca Juga :   Moderasi Beragama: Definisi, Konsep Dasar, dan Pentingnya dalam Mendorong Toleransi dan Kerukunan Agama

Meskipun terjadi perubahan atau penyesuaian makna dari waktu ke waktu, kenduri tetap menjadi bagian penting dalam praktik budaya Jawa. Hal ini dikarenakan kenduri menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial dan spiritual antar anggota masyarakat. Selain itu, kenduri juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan rasa syukur dan doa kepada yang telah meninggal (Abidatin, 2016).

Sebagai pesta ritual, kenduri memiliki nilai yang sangat penting dalam praktik keagamaan masyarakat Jawa. Kenduri dipercaya sebagai sarana untuk menghormati para leluhur dan mengirimkan doa kepada mereka. Selain itu, kenduri juga menjadi ajang untuk berdoa bersama-sama untuk keselamatan dan berkah bagi keluarga atau masyarakat yang mengadakannya (Abidatin, 2016).

Dalam praktiknya, kenduri biasanya diadakan di rumah-rumah atau tempat-tempat yang dianggap suci oleh masyarakat Jawa. Selain itu, kenduri juga dapat diadakan di tempat-tempat umum seperti masjid atau tempat ibadah lainnya. Dalam pelaksanaannya, kenduri biasanya diatur oleh tokoh-tokoh agama atau orang yang dianggap memiliki keahlian khusus dalam mengadakan acara kenduri.

Kenduri Tiga Agama Di Desa Balun

Dalam riset yang dilakukan oleh Azza Abidatin (2016) menyoroti sebuah prosesi kenduri di Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan, dimana terdapat kenduri yang melibatkan setidaknya tiga agama dan berkaitan dengan materi G30SPKI. Di situs tersebut, terdapat sejarahnya.

Masyarakat Desa Balun memiliki tradisi kenduri yang menyatukan umat Islam, Kristen, dan Hindu dan sudah dilakukan sejak lama. Pada tahun 1979, istilah kenduri mulai populer digunakan oleh masyarakat Desa Balun untuk menggantikan selametan yang tidak disetujui oleh umat Kristiani karena perbedaan keyakinan dalam hal mendoakan orang yang sudah meninggal dunia. Kenduri yang dipraktikkan oleh banyak agama di Desa Balun terdiri dari tiga jenis, yaitu kenduri selamatan desa seperti pada tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan), prosesi keluarga yang diselenggarakan untuk mendoakan anggota keluarga yang akan menikah dan mendoakan anggota keluarga yang meninggal dunia, dan ritual keagamaan seperti pada tradisi Islam, Kristen, dan Hindu (Abidatin, 2016).

Baca Juga :   10 Resep Makanan Lezat Idul Fitri yang Wajib Dicoba

Tujuan dari kenduri yang menjadi ruang publik adalah untuk menunjukkan eksistensi agama yang dianut melalui simbol-simbol yang ditampilkan saat kenduri, dimana simbol-simbol tersebut berbeda-beda untuk setiap agama. Simbol-simbol pada kenduri Islam antara lain makanan ringan, makanan untuk dibawa pulang setelah acara, uang untuk pujian, mikrofon dan sound system, doa-doa, dan nyanyian kepada Tuhan.

Simbol-simbol pada kenduri Kristen meliputi makanan ringan, makanan, makanan untuk dibawa pulang setelah upacara, uang untuk pujian, Alkitab, lilin, lagu-lagu religius, doa pembuka, doa berkat, dan doa untuk tuan rumah. Sedangkan dalam agama Hindu, simbol-simbol meliputi makanan ringan, makanan berat, makanan untuk dibawa pulang setelah upacara, uang untuk puji-pujian, bunga, sesajen yang terbuat dari canang sari, pajekan, tumpeng pancawarna, tumpeng agung, bubur pitara, tirta pangrukat, dan doa-doa pitra puja (puja wali dan pitra puja) (Abidatin, 2016).

Kenduri, Transmigrasi dan Perpindahan Budaya Lokal

Selanjutnya dalam riset (Alviawati et al., 2018) menunjukkan bahwa tradisi Jawa terkait Selamatan (perayaan bersama dengan aktivitas keagamaan) dalam siklus kehidupan seseorang masih dipraktikkan di wilayah tujuan transmigrasi, khususnya di Kabupaten Tanah Laut, terutama di Kecamatan Takisung. Studi ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa meskipun program transmigrasi Indonesia mengakibatkan perpindahan penduduk dari asal ke tujuan, budaya asli dari penduduk yang pindah tetap dipertahankan dan dijalankan di tempat transmigrasi.

Riset ini menawarkan beberapa informasi bermanfaat terkait transmigrasi dan praktik budaya di Indonesia. Beberapa informasi tersebut meliputi:

  • Pentingnya mempertahankan kebudayaan lokal: Studi ini menunjukkan pentingnya mempertahankan kebudayaan lokal di tengah perubahan sosial yang terjadi karena program transmigrasi. Meskipun penduduk dipindahkan ke wilayah baru, mereka masih dapat mempertahankan tradisi dan praktik budaya mereka di tempat transmigrasi.
  • Selamatan dalam siklus kehidupan: Studi ini menyoroti pentingnya Selamatan dalam siklus kehidupan orang Jawa, yang merupakan perayaan bersama dengan aktivitas keagamaan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi ini masih dipraktikkan di tempat transmigrasi.
  • Pentingnya penelitian kualitatif: Penelitian ini menggunakan metode survei kualitatif untuk memperoleh hasil penelitian, yang dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang praktik budaya dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat di tempat transmigrasi.
  • Implikasi kebijakan: Studi ini menunjukkan bahwa program transmigrasi dapat mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang dipindahkan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan implikasi sosial dan budaya dari program transmigrasi dalam pengambilan keputusan kebijakan.
Baca Juga :   5 Tradisi Idul Fitri yang Menarik untuk Diketahui

Dengan semua nilai-nilai yang dimilikinya, kenduri menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang patut dilestarikan. Kenduri bukan hanya sekadar acara atau pesta, tetapi juga memiliki makna yang sangat dalam dalam kehidupan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk menjaga dan melestarikan praktik budaya kenduri agar tidak hilang ditelan waktu.

Referensi

Abidatin, A. (2016). Kenduri, Public Space and Religious Diversity – Unair News. https://news.unair.ac.id/2015/12/25/kenduri-public-space-and-religious-diversity/?lang=en

Alviawati, E., Rijanta, R., Rum Giyarsih, S., & Harini, R. (2018). Javanese Cultural Practices Maintained in the Area of Transmigration Destination (Study on the Practice of Festivity in a Person’s Life Circle in Takisung District, Tanah Laut Regency). Proceedings of the 1st International Conference on Social Sciences Education – “Multicultural Transformation in Education, Social Sciences and Wetland Environment” (ICSSE 2017). https://doi.org/10.2991/icsse-17.2018.25

Cahyani, F., Karsidi, R., & Kartono, D. (2019). Kenduri: Traditional Culture in The Modern Society. Proceedings of the Proceedings of the 1st Seminar and Workshop on Research Design, for Education, Social Science, Arts, and Humanities, SEWORD FRESSH 2019, April 27 2019, Surakarta, Central Java, Indonesia. https://doi.org/10.4108/eai.27-4-2019.2286847

Festivities | Kenduri – Embodied Histories. (n.d.). https://www.goethe.de/prj/ceh/en/hib/jak/psy/knd.html

 

Avatar photo

Redaksi El Kariem

Tim redaksi elkariem-mengisi ruang maya. "Saya adalah saya dan etnis, ras, atau agama saya adalah identitas saya. Anda adalah Anda dan etnis, ras, atau agama Anda adalah identitas Anda. Kita adalah satu umat manusia yang bersatu di satu planet, dan kemanusiaan kita yang bersama adalah identitas kita."

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed